Mengelola Pengadaan Konstruksi pada Proyek Design & Build

Memahami Karakter Unik Design & Build

Pengadaan konstruksi pada proyek Design & Build memiliki karakter yang berbeda dibandingkan metode konvensional. Dalam pendekatan ini, satu penyedia jasa bertanggung jawab atas perencanaan sekaligus pelaksanaan konstruksi. Artinya, proses desain dan pembangunan tidak berjalan secara terpisah, melainkan terintegrasi dalam satu paket pekerjaan. Model ini sering dipilih karena dinilai mampu mempercepat waktu pelaksanaan dan memberikan efisiensi koordinasi. Namun di balik keunggulan tersebut, terdapat tantangan besar dalam pengelolaan pengadaannya.

Pada proyek konvensional, desain biasanya sudah selesai sebelum tender konstruksi dilakukan. Sebaliknya, dalam Design & Build, sebagian desain masih berkembang saat kontrak berjalan. Kondisi ini membuat dokumen pengadaan harus disusun dengan sangat cermat agar mampu menjadi dasar yang jelas bagi peserta tender dalam menyusun penawaran. Jika tidak dikelola dengan baik, potensi perbedaan persepsi, perubahan lingkup pekerjaan, hingga klaim tambahan biaya bisa muncul di tengah jalan.

Karena itu, pengelolaan pengadaan pada proyek Design & Build tidak hanya soal memilih penyedia dengan harga terbaik. Lebih dari itu, proses ini menyangkut kemampuan panitia atau tim pengadaan dalam merumuskan kebutuhan secara tepat, menyusun dokumen yang komprehensif, serta menjaga konsistensi antara perencanaan awal dan pelaksanaan. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana pengadaan konstruksi pada proyek Design & Build dapat dikelola secara efektif, dengan pendekatan yang sistematis dan naratif agar mudah dipahami.

Karakter Proyek Design & Build yang Berbeda dari Biasa

Proyek Design & Build menempatkan tanggung jawab desain dan konstruksi pada satu entitas. Hal ini berbeda dengan metode tradisional di mana konsultan perencana dan kontraktor konstruksi merupakan dua pihak yang berbeda. Integrasi ini menciptakan jalur komunikasi yang lebih sederhana, tetapi sekaligus memindahkan risiko desain ke penyedia jasa.

Dalam konteks pengadaan, karakter ini menuntut dokumen yang tidak hanya memuat spesifikasi teknis rinci, tetapi juga kriteria kinerja dan hasil akhir yang diharapkan. Pemilik pekerjaan biasanya belum memiliki gambar kerja detail, melainkan konsep desain atau kerangka acuan kerja yang menjelaskan kebutuhan fungsional. Oleh karena itu, peserta tender dituntut memiliki kemampuan desain yang kuat sekaligus pengalaman konstruksi yang memadai.

Keunikan lainnya adalah ruang kreativitas yang lebih luas bagi penyedia jasa. Mereka dapat menawarkan solusi desain yang inovatif selama tetap memenuhi persyaratan kinerja yang ditetapkan. Namun ruang kreativitas ini juga harus diimbangi dengan batasan yang jelas agar tidak terjadi perbedaan tafsir. Jika dokumen pengadaan terlalu umum, maka hasil desain dari masing-masing peserta bisa sangat berbeda sehingga menyulitkan proses evaluasi. Sebaliknya, jika terlalu rinci, maka semangat fleksibilitas Design & Build justru hilang.

Memahami karakter ini menjadi langkah awal yang sangat penting sebelum proses pengadaan dimulai. Tanpa pemahaman tersebut, panitia dapat terjebak menggunakan pola pengadaan konvensional yang kurang sesuai dengan kebutuhan proyek Design & Build.

Menyusun Dokumen Pengadaan yang Adaptif dan Jelas

Dokumen pengadaan dalam proyek Design & Build harus mampu menjembatani kebutuhan pemilik proyek dengan kreativitas penyedia jasa. Dokumen ini biasanya memuat kerangka acuan kerja, kriteria desain, spesifikasi teknis berbasis kinerja, persyaratan administrasi, serta mekanisme evaluasi. Penyusunan dokumen harus dilakukan secara hati-hati karena akan menjadi dasar hukum dan teknis sepanjang pelaksanaan proyek.

Salah satu tantangan terbesar adalah merumuskan kebutuhan secara jelas tanpa mengunci solusi. Pemilik proyek perlu menjelaskan fungsi bangunan, kapasitas yang diinginkan, standar mutu, serta target waktu penyelesaian. Namun di sisi lain, detail desain tidak harus ditentukan sepenuhnya. Di sinilah keseimbangan diperlukan. Dokumen yang baik akan menjelaskan apa yang ingin dicapai, bukan bagaimana cara mencapainya.

Selain itu, dokumen pengadaan harus mengatur pembagian risiko secara proporsional. Dalam Design & Build, risiko desain sebagian besar berada pada kontraktor. Namun bukan berarti semua risiko dapat dialihkan begitu saja. Risiko yang tidak terkendali, seperti perubahan regulasi atau kondisi lapangan yang tidak terduga, perlu diatur secara adil agar tidak menimbulkan sengketa.

Bahasa yang digunakan dalam dokumen juga harus lugas dan tidak multitafsir. Istilah teknis perlu dijelaskan dengan konsisten. Ketidakjelasan dalam satu kalimat saja dapat memicu perbedaan interpretasi yang berdampak besar pada biaya dan waktu pelaksanaan. Karena itu, proses review dokumen sebelum diumumkan menjadi tahap yang tidak boleh diabaikan.

Strategi Evaluasi Penawaran yang Objektif

Evaluasi penawaran pada proyek Design & Build tidak bisa hanya berfokus pada harga terendah. Karena peserta menawarkan konsep desain yang berbeda, aspek teknis menjadi sangat penting. Panitia perlu menilai kualitas desain awal, metodologi pelaksanaan, pengalaman tim perencana dan pelaksana, serta kemampuan manajemen proyek.

Proses evaluasi biasanya dilakukan dalam dua tahap, yaitu evaluasi teknis dan evaluasi biaya. Evaluasi teknis bertujuan memastikan bahwa konsep desain memenuhi kriteria kinerja yang telah ditetapkan. Pada tahap ini, panitia harus memiliki tim yang kompeten di bidang arsitektur, struktur, mekanikal elektrikal, dan manajemen konstruksi. Tanpa keahlian yang memadai, penilaian bisa menjadi subjektif dan kurang mendalam.

Setelah penawaran teknis dinyatakan memenuhi syarat, barulah dilakukan evaluasi biaya. Dalam beberapa metode, digunakan sistem nilai gabungan antara skor teknis dan harga. Pendekatan ini membantu memilih penyedia yang tidak hanya menawarkan harga kompetitif, tetapi juga kualitas desain yang baik.

Transparansi dalam proses evaluasi menjadi kunci utama. Setiap keputusan harus didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan dalam dokumen pengadaan. Jika panitia menambah atau mengubah kriteria di tengah proses, hal tersebut dapat menimbulkan keberatan dari peserta. Oleh karena itu, konsistensi antara dokumen dan pelaksanaan evaluasi harus dijaga dengan disiplin.

Mengendalikan Risiko Perubahan Desain

Karena desain berkembang selama pelaksanaan, risiko perubahan menjadi salah satu isu utama dalam proyek Design & Build. Perubahan desain dapat terjadi akibat kebutuhan tambahan dari pemilik proyek, temuan kondisi lapangan yang berbeda dari perkiraan, atau penyempurnaan teknis yang diperlukan.

Pengelolaan risiko ini dimulai sejak tahap pengadaan. Dokumen harus mengatur mekanisme perubahan pekerjaan secara jelas. Prosedur persetujuan perubahan, penyesuaian biaya, dan dampak terhadap jadwal harus ditentukan sejak awal. Dengan demikian, setiap perubahan dapat dikelola secara terukur dan terdokumentasi.

Selain itu, komunikasi antara pemilik proyek dan kontraktor harus berjalan intensif. Dalam Design & Build, kolaborasi menjadi faktor kunci. Pemilik proyek sebaiknya aktif memberikan masukan selama proses desain berlangsung, namun tetap menghormati tanggung jawab kontraktor sebagai perancang dan pelaksana.

Pengendalian risiko juga memerlukan sistem monitoring yang baik. Setiap tahap desain perlu direview dan disetujui sebelum masuk ke tahap konstruksi berikutnya. Dengan cara ini, potensi kesalahan dapat dideteksi lebih dini sehingga tidak menimbulkan biaya perbaikan yang besar di kemudian hari.

Peran Kontrak sebagai Pengikat Kepastian

Kontrak dalam proyek Design & Build memiliki peran yang sangat strategis. Dokumen kontrak bukan sekadar formalitas administratif, melainkan pedoman utama dalam mengatur hubungan kerja antara pemilik proyek dan penyedia jasa. Semua ketentuan mengenai lingkup pekerjaan, standar mutu, jadwal, pembayaran, serta penyelesaian sengketa harus tertuang dengan jelas.

Karakter terintegrasi pada Design & Build membuat kontrak harus mampu mengakomodasi dinamika desain yang berkembang. Klausul mengenai tanggung jawab desain menjadi bagian penting yang membedakan dari kontrak konstruksi biasa. Kontraktor bertanggung jawab atas kesesuaian desain dengan kebutuhan dan standar yang telah ditetapkan.

Kontrak juga harus mengatur mekanisme pengujian dan serah terima hasil pekerjaan. Karena penyedia jasa bertanggung jawab atas desain, maka ia juga bertanggung jawab atas kinerja bangunan setelah selesai dibangun. Jaminan mutu dan masa pemeliharaan menjadi aspek yang tidak boleh diabaikan.

Kejelasan kontrak membantu meminimalkan potensi sengketa. Ketika terjadi perbedaan pendapat, para pihak dapat merujuk pada ketentuan yang telah disepakati. Dengan demikian, kontrak menjadi alat pengendali risiko sekaligus penjaga kepastian hukum dalam pelaksanaan proyek.

Koordinasi dan Komunikasi sebagai Kunci Sukses

Keberhasilan pengadaan dan pelaksanaan proyek Design & Build sangat bergantung pada kualitas koordinasi dan komunikasi. Integrasi desain dan konstruksi menuntut alur informasi yang cepat dan akurat. Setiap perubahan atau keputusan teknis harus segera disampaikan kepada semua pihak yang terkait.

Panitia atau pemilik proyek perlu membangun sistem komunikasi yang terbuka sejak awal. Pertemuan koordinasi rutin, laporan kemajuan berkala, serta dokumentasi yang rapi menjadi bagian penting dari pengelolaan proyek. Dengan komunikasi yang baik, potensi kesalahpahaman dapat dikurangi.

Selain komunikasi formal, hubungan kerja yang profesional juga berperan besar. Sikap saling percaya dan menghormati akan menciptakan suasana kerja yang kondusif. Dalam proyek yang kompleks seperti Design & Build, konflik kecil dapat berkembang menjadi masalah besar jika tidak ditangani dengan bijak.

Oleh karena itu, pengadaan bukan hanya tentang memilih kontraktor terbaik, tetapi juga tentang membangun fondasi kerja sama yang kuat. Hubungan yang sehat antara pemilik proyek dan penyedia jasa akan sangat menentukan kelancaran proyek dari awal hingga selesai.

Contoh Kasus Ilustrasi

Sebuah instansi pemerintah merencanakan pembangunan gedung pelayanan terpadu dengan metode Design & Build. Pada tahap pengadaan, dokumen hanya menjelaskan kebutuhan ruang dan kapasitas tanpa menjabarkan standar kinerja secara detail. Peserta tender kemudian mengajukan desain dengan pendekatan yang sangat beragam, mulai dari konsep bangunan bertingkat rendah hingga menara tinggi dengan teknologi canggih.

Saat evaluasi, panitia mengalami kesulitan membandingkan penawaran karena perbedaan konsep yang terlalu jauh. Setelah kontrak ditandatangani, muncul permintaan perubahan dari pemilik proyek karena merasa desain terpilih belum sepenuhnya mencerminkan citra yang diinginkan. Perubahan tersebut berdampak pada kenaikan biaya dan perpanjangan waktu pelaksanaan.

Dari ilustrasi ini terlihat bahwa kurangnya kejelasan dalam dokumen pengadaan dapat menimbulkan konsekuensi serius. Jika sejak awal kriteria kinerja, standar arsitektur, dan ekspektasi visual dijelaskan dengan lebih rinci, maka variasi desain tetap dapat terjadi namun dalam batas yang terarah. Kasus ini menjadi pelajaran bahwa pengelolaan pengadaan pada proyek Design & Build memerlukan ketelitian dan perencanaan matang agar tidak menimbulkan risiko di kemudian hari.

Penutup

Mengelola pengadaan konstruksi pada proyek Design & Build membutuhkan pendekatan yang berbeda dari metode konvensional. Integrasi desain dan konstruksi memberikan peluang efisiensi, tetapi juga membawa tantangan dalam hal perumusan dokumen, evaluasi penawaran, serta pengendalian risiko perubahan.

Kunci keberhasilan terletak pada kejelasan dokumen pengadaan, objektivitas evaluasi, pengaturan kontrak yang komprehensif, serta komunikasi yang efektif sepanjang pelaksanaan proyek. Semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Pemilik proyek perlu menyampaikan kebutuhan secara jelas, sementara penyedia jasa harus mampu menerjemahkannya ke dalam desain dan konstruksi yang berkualitas.

Dengan pengelolaan yang baik, proyek Design & Build dapat berjalan lebih cepat, efisien, dan terkoordinasi. Namun tanpa perencanaan pengadaan yang matang, potensi konflik dan pembengkakan biaya dapat mengurangi manfaat metode ini. Oleh karena itu, pengadaan bukan sekadar tahap administratif, melainkan fondasi utama yang menentukan arah dan keberhasilan seluruh proyek.